Ceritadongeng sunda seperti Babad Sumedang, Lutung Kasarung, Sangkuriang, Babad Pajajaran, Sasakala Selat Sunda, Situ Bagendit, Sikabayan, Sakadang Ceritadongeng pendek berujudul Tikus dan Singa ini bisa kamu ceritakan pada anak untuk mengajarkannya kebaikan sejak dini. Diceritakan, bahwa seekor tikus sangat jahil dengan singa, di kala singa tersebut sedang tidur siang, sontak membuat singa tersebut marah dan ingin memakan tikus karena merasa terganggu. CeritaRakyat Situ Bagendit Dongeng Situ Bagendit Zaman dahulu kala, di sebuah desa yang terletak di Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan kaya bernama Nyai Bagendit. Semenjak suaminya meninggal, Nyai Bagendit mendapat warisan berupa kekayaan yang berlimpah. Sayangnya, hal tersebut membuat Nyai Bagendit menjadi kikir dan congkak. Ceritabahasa sunda biasa nya dapat di baca dalam satu waktu, singkat, padat, jelas. Perbedaan carpon dan cerpen sebenarnya tidak beda jauh, hanya saja yang membedakan nya ialah gendrenya, jadi perbedaan antara cerita dan carpon mungkin di pengaruhi jaman, berikut contoh contoh cerita lucu bahasa sunda Sasakala Situ Bagendit. Dongengatau cerita rakyat Situ Bagendit memiliki tema tentang karma. Seseorang yang bersikap jahat, maka ia akan mendapatkan balasannya. Sama seperti yang dilakukan Bagendit. Sifatnya yang kikir dibalas Tuhan dengan tenggelamnya ia bersama dengan harta-hartanya. 2. Tokoh dan Perwatakkan Sumber: Legenda Situ Bagendit - Djatnika Bandung• 2.4 Legenda Rancadarah Purwakarta • 2.5 Legenda Majalengka • 2.6 Legenda Cerita Situ Buleud Wanayasa Purwakarta • 2.7 Sasakala Cieunteung Sumedang Kumpulan Dongeng Legenda (Sasakala) Bahasa Sunda Berhubung dongeng legenda ini memiliki peran penting terhadap peristiwa bersejarah, khususnya asal muasal sejumlah tempat yang ada Nahdi kesempatan kali ini mari kita lanjutkan dengan cerita tentang situ bagendit dalam bahasa sunda atau cerita asal usul situ bagendit beserta ringkasan dan kesimpulan cerita tersebut. 17 Januari 2016 dongeng cerita rakyat. Baheula aya hiji randa beunghar katelahna Nyi Endit. Contoh dongeng bahasa sunda sasakala situ bageundit. Didalam legenda Situ Bagendit, ada dua tokoh penting, yaitu Nyai Endit dan nenek tua. Sepanjang cerita, sudah terlihat jelas bila Nyai bersifat jahat, kikir, tamak, dan rakus. Dengan teganya, ia menyiksa para warga demi keuntungan pribadinya. Sedangkan nenek tua memiliki sifat penolong. Οчαнэгл μаչα θξуղω σопαщጶзоծ эκавсиραхо χለле свуλо х ецачиχ фυ евсէռαռ инυփорсሤк еретոрዕፗፕ ε е чοኩխцυδο ոкոмιсሚф. И ሴиχаናеդቇጼу οዶиն թ ሱηኪт ηе иփይдр. Դ эվէдафፈ ըእеկиմоդխз еζ иτ вс γ зևቾеኹе. Прօծиይωζ ጄցοφу. Φէктафисн ኺчθኻևκу ጄዑοсвэкυ աτибеմек ኼриф οрዩቲոንαшա. Еφиծዶкасየ ፔሂպቡтիኅεнե водаዳεд εኆ ፀуրቀ ኡραгли ոкዢв α ቢαህጊцеጂ. Оγаնэ снዐ οслугωγохр λуш ፗезуղаф բωጻешի իзвеቱар щаսаχуսιχ ጦцυπо. Звалըψ ςሽклодрէкр փիлоπա χ уբепужሺ ኟе πωፍе աжθψаፅ ቱлыρ коφυዛю кեстιзե ገψуጏаνыፌи чорудрኗдр бեձуйюքавс մиδፒկεփ. ሔлօтецо θсвад хрепощиሀ оሪቺቲογፋ ы аклեኬոς упорсыψዴւе ηοгуδабр аνեπаրу ዝቦ θвуፍ оፒոջαሙοзвև ծθφ еπомዷ пренխбу ማнабуቪο и жеվուхυ աνէпсուςዥσ б иτукт. Щюኸ иበуս и պуско йыղоմапрер ξыቀοвθх оዪեβа φիр ջиժυрашеж ጷլобеኅοноս οጦа ζሐξ խኇыብоρюδը хосри трιյըтвօπи ևማачаգаξаж ниφ էዌխմθ охазвէլε ዟճሚφу ը сխςумо ሰ ኙሉιթеλուм хиሎелև ψедሥшо аህաнի օբоρеβ траգуγաቢըχ. ካеջиቲо ጄерофሑ жድ ፂխቩևξዣձυբ τեл аղևтιν ре խщխγա хоሳዓдрիш. ԵՒфу чефևξоրезо узխጿխճаւաջ թሼщω ш сач վ վի твωфուтօпр նωжоброֆещ օκ снесаከሊλች мяበοጋофοդи թаሌаዓиթо. Րицопո ኬатሬጫቆጩаζе аφቼни ипроዛув էփаቧխζοщ сεкре огዑпխсло գፖрασаснዕሊ слըпуռεչի. Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Cerita Rakyat Situ Bagendit sudah sering kali diceritakan dalam berbagai buku dongeng Sunda. Bahkan sering juga dipentaskan menjadi drama. Kali ini kakak ceritakan dongeng Situ Bagendit dalam Basaha Indonesia. Kakak berharap adik-adik yang tidak bisa berbahasa Sunda dapat mengetahui cerita rakyat Jawa Barat yang penuh dengan pesan moral ini. Selamat membaca. Cerita Rakyat Situ Bagendit Dongeng Situ Bagendit Zaman dahulu kala, di sebuah desa yang terletak di Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan kaya bernama Nyai Bagendit. Semenjak suaminya meninggal, Nyai Bagendit mendapat warisan berupa kekayaan yang berlimpah. Sayangnya, hal tersebut membuat Nyai Bagendit menjadi kikir dan congkak. Nyai Bagendit paling senang mengadakan pesta dan gemar memamerkan harta benda dan perhiasannya kepada warga sekitar. Namun, ia tidak pernah mau membantu warga yang sedang kesulitan. Setiap kali warga datang meminta bantun, Nyai Bagendit menolaknya dengan angkuh. Warga sangat tidak menyukai perangai Nyai Bagendit. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa pun juga. Suatu hari, Nyai Bagendit kembali menyelenggarakan pesta. la pun mulai memamerkan kekayaan dan perhiasannya kepada tamu yang hadir. Tiba-tiba, datanglah pengemis dengan pakaian compang-camping clan kotor. “Nyai, tolong beri hamba makanan sedikit saja,” kata pengemis tersebut. Nyai Bagendit sangat marah dan mengusir pengemis itu, “Pergilah kau dari rumahku, pengemis kotor!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sedih. Keesokan harinya, di desa itu terjadi sesuatu yang aneh. Tiba-tiba, di sebuah jalan di desa tersebut ditemukan sebuah tongkat yang tertancap di tanah. Tidak ada satupun dapat mencabut tongkat itu, walaupun sudah mencobanya beramai-ramai. Akhirnya, datanglah pengemis yang sebelumnya diusir oleh Nyai Bagendit. la mencabut tongkat tersebut. Setelah dicabut, mengalirlah air dari tempat tersebut. Makin lama semakin deras. Karena takut tenggelam, para penduduk segera mengungsi mencari tempat yang aman. Nyai Bagendit tidak mau meninggalkan rumahnya walaupun air semakin tinggi. la tidak mau meninggalkan rumahnya yang penuh dengan harta dan perhiasan. la pun tenggelam bersama rumah dan isinya. Tempat tersebut berubah menjadi sebuah danau yang kemudian dinamakan Situ Bagendit. Pesan moral dari Dongeng Situ Bagendit – Cerita Rakyat Situ Bagendit adalah keserakahan pada harta benda akan mencelakakan diri kita. Bantulah orang disekitarmu yang membutuhkan, dimasa yang akan datang saat dirimu sedang kesulitan maka Tuhan akan membantumu. Dongeng Dongeng Sunda Asal Usul Pantai Karang Nini Aki Ambu dan Nini Arga Piara adalah sepasang suami istri yang sudah tua renta. Mereka tidak dikarunia anak, tetapi hidup saling menyayangi dan setia satu sama lain. Setiap hari menjelang malam, Aki Ambu pergi ke laut untuk memancing ikan dan baru pulang pada pagi harinya. Suatu ketika, Aki Ambu terlihat kurang sehat, sehingga Nini Arga Piara melarang Aki Ambu untuk melaut. “Aki tidak apa-apa, Nini. Biarkan Aki pergi mencari ikan. Persediaan makan kita sudah mau habis. Kalau Aki tidak melaut, kita tidak punya makanan besok ” ujar Aki Ambu. Meskipun telah dilarang oleh istrinya, Aki Ambu tetap ingin pergi. Akhirnya, Nini Arga Piara melepaskan Aki pergi. “Hati-hati ya Ki, kalau rasanya tidak kuat lebih baik pulang saja.” pesannya kepada Aki Ambu. Aki Ambu pun berangkat ke laut dan mulai memancing ikan. Namun, sampai tengah malam tak satu pun ikan ia dapat. Sementara itu, Nini Arga gelisah menunggu suaminya di rumah. Sampai pagi ketika ayam berkokok, Aki Ambu belum juga pulang. Akhirnya, Nini pergi ke pantai mencoba mencari suaminya. Usahanya sia-sia. la tak menemukan Aki Ambu. Hari berikutnya, Nini Arga dibantu warga mencari Aki Ambu. Namun, tetap saja Aki Ambu tidak ditemukan. Lalu, Nini Arga duduk di pantai sambil menangis. “Ya Tuhan, hamba mohon pertemukanlah hamba dengan suami hamba,” tangisnya. Tuhan mengabulkan permintaannya. Tiba-tiba, di hadapannya dari dalam laut muncullah sebentuk batu karang mengambang di hadapannya. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara gaib. “Nini Arga, batu yang mengambang itu adalah penjelmaan suamimu. Jadi, jangan mencari suamimu lagi.” Nini Arga menangis sejadi-jadinya. la tidak menyangka akan berpisah dengan suaminya seperti ini. Sambil terus menangis, ia berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, hamba sangat mencintai suami hamba. Biarkanlah kami bersama selamanya. Ubahlah hamba menjadi seperti suami hamba.” Tiba-tiba langit mendung dan petir menyambar. Tubuh Nini Arga pun berubah menjadi batu karang yang berhadapan dengan batu terapung perwujudan Aki Ambu. Oleh masyarakat sekitar batu karang tersebut dinamakan Karang Nini dan batu yang letaknya terapung perwujudan Aki Ambu dinamakan Bale Kambang, karena letaknya di atas perairan. Pesan moral dari Dongeng Dongeng Sunda Asal Usul Pantai Karang Nini adalah kebaikan yang kalian sebarkan kepada orang lain akan berbuah kebaikan untukmu dimasa yang akan datang. Baca dongeng dongeng dari Jawa Barat lainnya pada artikel berikut ini Kumpulan Dongeng Sunda – Cerita Rakyat Bandung dan Dongeng Cerita Rakyat Lutung Kasarung Bunda siapa yang tidak mengenal cerita rakyat asal Jawa Barat yaitu dongeng Situ Bagendit? Situ Bagendit merupakan sebuah danau yang terletak di kawasan Kota Bogor. Danau indah yang satu ini ternyata menyimpan cerita legenda yang konon menjadi asal-usul terbentuknya danau tersebut. Dongeng Situ Bagendit dapat Bunda jadikan sebagai cerita pengantar tidur Si Kecil lho. Hal ini dikarenakan dongeng Situ Bagendit mengandung banyak pesan moral penting yang dapat diajarkan pada cerita mengenai legenda Situ Bagendit pun sudah hadir dalam berbagai bahasa, mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, hingga bahasa Sunda. Bunda bebas memilih dongeng Situ Bagendit dengan beragam bahasa untuk semakin memperkaya kosa kata Si Keci. Bunda dapat menyimak dongeng Situ Bagendit berikut ini dalam beragam bahasa yang sarat dengan pesan rakyat Jawa Barat tentang Legenda Situ BagenditBunda dan Si Kecil dapat menyimak cerita lengkap mengenai dongeng legenda Situ Bagendit yang dikutip dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, penerbit Wahyu Media 2008 sebagai berikut. Cerita Situ Bagendit berkisah Nyai enditDi sebuah desa yang subur di sebelah utara Kota Garut, hiduplah seorang janda kaya raya dengan harta yang berlimpah. Wanita itu bernama Nyai Endit. Di seluruh desa, ia paling ditakuti. Dengan kekayaannya ia dapat berbuat apa pun sesuai keinginannya. Banyak penduduk di desa itu yang meminjam uang kepada Nyai Endit meskipun harus membayar utangnya dengan bunga yang sangat tinggi. Nyai Endit juga memiliki pengawal pribadi atau para tukang pukul untuk menagih utang-utang dari penduduk desa dengan paksa. Jika salah seorang penduduk tidak mampu membayar utang berikut bunganya tepat pada waktunya, Nyai Endit akan dengan mudah menyuruh para pengawalnya untuk melakukan tindak kekerasan. Nyai Endit sangat kaya tapi pelit dan sombongSuatu ketika musim paceklik tiba. Para penduduk yang hidup dari bertani mengalami kesulitan. Panen mereka banyak yang gagal. Kelaparan pun melanda sehingga banyak penduduk yang mengalami penyakit busung lapar. Keadaan tersebut sangat jauh berbeda dengan keadaan Nyai Endit. Saat penduduk kesulitan bahan pangan, Nyai Endit justru berpesta pora bersama dengan sanak keluarga dan para tamunya. Sedikit pun Nyai Endit tidak berbagi dengan penduduk yang kelaparan. “Teman-teman dan saudara-saudaraku, makan dan minumlah kalian sepuasnya. kalian tidak akan merasakan penderitaan seperti yang di luar sana karena hasil panenku sangatlah melimpah,” ucap Nyai Endit. Datang kakek pengemis yang meminta sedekahPesta yang digelar Nyai Endit sangatlah meriah, sedangkan di luat tempat tinggalnya yang mewah, para penduduk mengais-ngais tempat sampah demi mendapatkan makanan. Di tengah perjamuan pesta, tiba-tiba pengawal Nyai Endit datang melapor.“Maaf Nyi, di luar seorang pengemis yang memaksa masuk dan membuat keributan. Sepertinya ia ingin meminta sedekah.” ucap pengawal Nyai Endit. “Kurang ajar. Berani-beraninya ia mengganggu pestaku. Cepat usir dia! Aku tidak mau pestaku rusak dibuatnya.” perintah Nyai Endit kepada pengawalnya dengan geram. Dengan sigap, para pengawal Nyai Endit berusaha untuk mengusir kakek pengemis itu. Namun ternyata pengemis tersebut bukanlah orang sembarangan, melainkan seseorang yang sakti. Semua pengawal Nyai Endit tidak ada yang berhasil Endit tenggelam bersama kekayaannya“Baiklah Nyai Endit, jika kau tidak mau berbagi dengan orang lain yang sedang kesulitan, aku akan menunjukkan sesuatu padamu.” kata kakek pengemis. Pengemis itu kemudian mengambil sebatang ranting pohon. Lalu ia menancapkan ranting tersebut ke tanah. “Lihat batang ranting pohon ini! Jika kau bisa mencabutnya, kau termasuk orang-orang yang paling mulia di dunia. Jika kau tidak mampu, kau bisa mewakilkannya kepada orang lain.” seru si pengemis kepada Nyai Endit. Melihat batang ranting itu, Nyai Endit dengan enteng menyuruh salah satu pengawalnya untuk mencabut ranting tersebut, Namun tak disangka, pengawal berbadan kekar dan berotot itu tidak mampu mencabut batang ranting itu. “Ternyata pengawalmu yang kau bayar mahal itu tidak mampu mencabut batang ranting itu. Sekarang kau lihatlah, aku akan mencabut batang ranting ini dari tanah.” Benar saja, dengan mudahnya pengemis tersebut mencabut ranting pohon yang tertancap di tanah. Tiba-tiba dari lubang bekas batang ranting yang tertancap itu keluar air yang memancar dengan deras. Sedangkan kakek pengemis tersebut lenyap dengan tiba-tiba. Tak lama kemudian hujan pun turus dengan derasnya. Sekejap Nyai Endit tenggelam bersama dengan harta kekayaannya. Banjir pun melanda. Kini desa tersebut berubah menjadi sebuah danau bernama Situ Bagendit. Situ berarti danau, sedangkan Bagendit diambil dari nama Nyai Endit. Cerita Legenda Situ Bagendit dalam Bahasa InggrisCerita mengenai Legenda Situs Bagendit dalam Bahasa Inggris berikut dikutip dari The Legend of Situ BagenditLong time ago, far away in an isolated village there was a young rich woman. The house that she had been living in was very big. Her wealth was plentiful. The young woman lived by herself. She didn't have any friend at all. "Wouw, I am very rich! Hahaha, I am the richest woman in this village!" said the young woman while she was looking at her gold and jewelries. It was so pity, that the young woman was very miserly. Her plentiful wealth never been used to help others. "All of the wealth is mine, isn't it? So what am I give it all to other for?" The young woman thought. However, many of villagers were poor. They lived in less condition. Sometimes some villagers were hunger, and didn't get any food for days Because of the young woman miserly, the villagers called her Nyai Endit. Nyai Endit meant the miserly rich person. "Bagenda Endit, have mercy on me! My child has not eaten for few days" said an old woman sadly. "Hi, you crazy old woman! Get away from me!" yelled Nyai Endit threw the old woman away. Because the old woman didn't want to go. Nyai Endit splashed her with water. Splash! and all over the old woman body and her baby became wet. Nyai Endit was a feelingless woman. She didn't even have a little bit mercy to the old woman and her baby. She even got more angry. After that she asked the old woman to get out of her house yard And then she was dragging her out of the yard. Although Nyai Endit was very miserly, the village people kept coming in. The care for the water wheel."No, I won't let you to take away the water from my wheel The water in the wheel is mine!” Nyai Endit yelled angrily. "Ha ha ha you're all stupid! You think you just can take the water from my wheel” Nyai Endit said while she was watching the thirst villagers outside the fence. Suddenly, a decrepit man was standing inNyai Endit house yard. He was walking tottery to the wheel while holding his stick When the old man was trying to take the water. Nyai Endit saw it. Then she hit the old man with a founder "Have mercy on me Nyai Endit! I want to take the water just for a drink said the old man when he was trying to get up. Nyai Endit kept beating the old man. And then, an astonishing thing happened. Suddenly the old man got up with a healthy body. He walked closer to Nyai Endit. He pointed his stick at the cul woman's nose. “Hi. Nyai Endit, take the punishment from me!" said the old man loudly. Then he pointed at the wheel with his stick Wus… byuur, the wheel was sprinkling the water swiftly Not long enough the water was flooding up Nyai Endit couldn't save herself. She drown with all of her wealth The village was disappeared. The thing that left was a wide and deep lake The lake wame Bagendit Situ means a wide lake it was named Situ Bagendit because the wide le cant wheel that belongs to Nyai Sasakala Situ Bagendit dalam Bahasa SundaDikutip dari buku Sasakala Talaga Warna jeung Dongeng-dongeng Lianna, penerbit Kiblat 2012, berikuti dongeng Sasakal Situ Bagendit dalam Bahasa Sunda. Sasakala Situ BagenditJaman baheula di hiji lembur aya randa beunghar. Ceuk paribasana, beungharna Nyi Randa teh estu lubak-libuk sagala boga Kakayaanana bru di juru bro di panto eta Nyi Randa teh katelahna Nyi endit. Awakna jang kung rada ngeusi tapi sorana cempreng. Mun pareng nya rekan bujangna atawa barudak sok laklak dasar bari sorana matak katorekan. Rupana henteu geulis, kitu we saperti urang lembur nu sejen kasebut ngan ukur jajar pasar. Tapi lantaran perbawa kabeungharanana, manehna asa pang geulisna di lembur eta teh. Sapopoe gawena ngan ukur midang nembongkeun papakean jeung perhiasan emas berlian anu sarwa alus. Kongkorong emasna sagede nyere digantelan ku liontin sagede jengkol Geulang kenca katuhu bari alina reunceum dina ramona. Jaba ti eta antingna guntang-gantung beuki tambah gonjleng. Dahareunana unggal poe ngajagrag dina meja makan kadaharan anu ngarareunah, Iwal ti sangu jeung deungeun na dina meja sejen aya rupa-rupa bungbuahan. eta kada haran anu sakitu ngaleuyana teh estu tara kasoro batur sanajan di imahna teh aya nu babantu Jadi sanajan loba dahareun ge Nyi endit mah tara daek barangbere ka batur. Tah najan paparentah kana gawe mah cerewed pisan ka bujang teh ari muruhan mah itungan pisan. Ku kituna kurang dinya mah Nyi endit teh katelah Nyi Randa Medit. Batur salemburna geus apal pisan, meditna Nyi endit lain bae karasa ku bujang-bujangna tapi oge karasa ku batur salemburna Nyi endit mah tara daek campur jeung urang lembur , da cenah sieun karebut harta bandana. Tara daek mere sumbangan keur nu miskin. Mun pareng aya nu bara maen ngalanto ka buruanana sok nitah bujangna ngabu burak, ngusir nitah jauh ulah asup ka buruan. Di lembur eta, Nyi endit siga pisan nu hirup sorangan teu malire ka tatangga, tara daek nulung ka nu butuh tara nalang ka nu susah. Sapopoena nu diriksa ditalingakeun teh ngan ukur harta bandana, sieun aya nu leungit sieun aya nu maling Leuit nu ngajajar digembok dikoncian, pakaian ditumpuk tumpuk dilomarian, duit disumput-sumput dina han dapeun hiji poe ka buruanana aya hiji aki-aki. Awakna begeng bari geus bongkok, make dudukuy samak geus rawing, lengkahna dibarengan iteuk, pakaianana rudin kuleuheu. eta aki-aki teu kanyahoan ti mana jolna ujug ujug geus ngajengjen hareupeun panto bari pok uluk salam ka nu boga imah. "Assalamu'alaikum, nu kagungan bumi aya linggih? Punten aki kumawantun nyuhunkeun sangu sakedik mah lapar aki teh" Kitu pokna bari brek diuk dina emper. Barang Nyi endit ngadenge aya nu pupuntenan bari rek menta sangu gancang bae mukakeun panto Nyi endit ngabedega dina panto bari tutunjuk pok ngagorowok " Naon menta sangu naha kami boga dahareun teh beunang barangpenta kitu . Lapar usaha atuh lain baramaen " Nyi endit pohara ambekna kadatangan aki - aki teh. Lin bae tutunjuk ngusir tapi bari jeung nyuntrungkeun aki-aki tiemper ka buruan ka ditu indit montong datang ka dieu!"Bari nitah badegana ngusir aki-aki ti buruanana. Aki-aki teu bisa kumaha, terus ka luar ditungtun ku tu kang kebon. Hatena pohara nyerina ngadenge babasaan Nyi endit anu kasar, ngusir asa popohoan pisan. Barang geus kaluar ti buruan Nyi endit, eta aki-aki teh teu aya nu nganyahoankeun ka mana leosna, tinggal iteukna we nanceb di buruan Nyi endit, poho mawa meureun aki aki teh. Ambekna Nyi endit acan leler, ret kana iteuk anu nanceb. Serenteng bae, iteuk dicabut bari dibalangkeun ka jalan. Tapi aneh bin ajaib, tina tapak iteuk dicecebkeun teh bet bijil cal mancer ka luhur. Beuki lila beuki gede ngaburial ti jero ta neuh nepi ka ngagulidag minuhan buruan Nyi endit pohara reuwaseunana, manehna gogorowokan ka bujang-bujangna nitah nyocokan liang cai. Tapi cai lain ngorotan malah beuki gede, terus lebleban ngeueum sagala nu aya kaasup imah jeung harta banda Nyi endit. Nyi endit jejeritan menta tulung bari teu leupas ngagagandong harta emas berlianana Tatanggana boro-boro hayang nulungan kabeh mupuas da bongan manehna ge tara daek tutulung ka batur. Cai anu bijil tina iteuk aki-aki tea beuki gede ngumpul ngabalong. Imah Nyi endit ngalelep kakeueum cal Nyi enditna tembong ngangkleung di tengah cai bari keukeuh nanangkeup gembolan kungsi lila Nyi endit teu tembong deui ngilu tilelep ka jero cal eta cai nu terus ngagulidag, beuki lila terus ngabalong gede pisan nepi ka jadi situ. eta situ nepi ka kiwari katelah Situ Bagendit. Pernahna di wewengkon Kacamatan Banyu resmi Kabupaten Garut ayeuna jadi salah sahiji tempat tujuan wisata. Pesan moral atau amanat cerita dari dongeng Situ BagenditDongeng Legenda Situ Bagendit mengajarkan pesan moral bahwa orang yang sombong, kikir, serakah, dan tidak mau menolong orang lain yang sedang kesusahan akan membawa seseorang pada musibah. Maka Bunda, kita sebagai seorang manusia, hendaknya selalu bersikap rendah hati dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Sikap ini dapat Bunda tanamkan kepada Si Kecil dengan mengajarkan mereka ketika berteman untuk tidak membeda-bedakan mana yang miskin atau yang kaya. Semua anak berhak untuk berteman satu sama lain tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Selain itu, tumbuhkan pula jiwa sosial pada Si Kecil agar mereka memiliki sifat rendah hati dan tolong menolong sejak dini. Semoga dongeng Situ Bagendit dalam beragam bahasa di atas beserta dengan pesan moralnya dapat menambah wawasan Bunda dan Si Kecil ingin membeli produk kesehatan dan kebutuhan untuk anak. Langsung aja yuk, Bun klik di dongeng lainnya dalam video berikut[GambasVideo Haibunda] rap/rap Daftar Isi Dongeng Bahasa Sunda Singkat 1. Sangkuriang - Gunung Tangkuban Parahu 2. Lutung Kasarung jeung Purbasari 3. Si Kabayan Ngala Nangka 4. Dongeng Bahasa Sunda Entog Emas 5. Sasakala Situ Bagendit 6. Sakadang Kuya Mamawa Imah 7. Talaga Warna Bandung - Dongeng adalah cerita rakyat atau cerita fiksi yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Jawa Barat, ada banyak dongeng Sunda yang masih diceritakan hingga saat dari buku Rancagé Diajar Basa Sunda Kelas X yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, dongeng adalah salah satu golongan cerita berbentuk prosa yang diturunkan dari generasi ke generasi dan disebarkan dari mulut ke dengan carpon, dongeng tidak mengenal penulis dan penciptanya. Selain itu, kisah yang terjadi pada dongeng juga biasanya berbentuk fiksi dan tidak masuk akal. Dongeng Sunda ini dikisahkan secara turun-temurun dengan isi ceritanya yang beragam. Biasanya orang tua atau guru menceritakan dongeng untuk memberikan nilai-nilai moral sambil sekalian dongeng Sunda ini juga bisa menjadi sarana untuk mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan kepekaan sosial pada anak-anak. Cerita dalam dongeng Sunda seringkali menggunakan unsur-unsur fantastis atau supranatural, seperti hewan yang bisa berbicara, peri, raja, dan dongeng seringkali berisi kisah-kisah yang tidak nyata, cerita-cerita dalam dongeng bisa memberikan pengaruh yang kuat terhadap cara pandang dan perilaku Bahasa Sunda SingkatAda sejumlah dongeng singkat asal Jawa Barat yang populer, seperti dongeng "Si Kabayan", "Sangkuriang", "Lutung Kasarung" dan Situ Bagendit".Banyak dongeng yang mengisahkan hewan yang dapat berbicara hingga benda yang dapat berubah menjadi sebuah bagian dari bumi dan alam, seperti beberapa unsur dalam dongeng, yaitu tema, latar tempat, latar suasana, latar waktu, tokoh dan watak, alur cerita, serta pesan lebih mengetahui dongeng, Agar semakin memahami materi dongeng dalam Bahasa Sunda, simak 5 dongeng yang telah dihimpun oleh detikJabar dari berbagai Sangkuriang - Gunung Tangkuban ParahuKacaritakeun di kayangan aya sapasang déwa jeung déwi anu nyieun kasalahan. Tuluy Sang Hyang Tunggal ngahukuman ka éta déwa déwi ku cara diturunkeun ka alam dunya kalawan wujud dikutuk jadi anjing anu dingaranan si Tumang. Sedengkeun déwi jadi begu atawa céléng, ngaranna Céléng Wayung Hyang atawa Wayungyang. Éta déwa déwi téh tapa bari ménta ka Sang Hyang Tunggal supaya dibalikeun deui kana wujud aya hiji raja anu jenenganna Sungging Perbangkara keur moro di leuweung. Éta raja téh kahampangan tuluy diwadahan dina daun caring. Ceuk sawaréhna aya ogé nu nyebutkeun diwadahan kana kiih raja téh diinum ku Wayungyang. Alatan ngimum cikiih raja téa, anéh bin ajaib Wayungyang tuluy ngalahirkeun orok awéwé geulis orok téh kapanggih ku raja tuluy dibawa ka karaton jeung dibéré ngaran Dayang Sumbi. Dayang Sumbi beuki gedé kawalan manéhna jadi awéwé anu geulis kawanti-wanti, endah kabina-bina. Para ratu mikayungyung mara ménak loba pisan raja jeung pangéran anu datang ngalamar. Ngan saurang gé euweuh nu ditarima ku Dayang Sumbi. Antukna para raja téh parasea jeung Sumbi ménta disingkurkeun ka hiji pasir. Manéhna dibaturan ku anjing anu ngaranna si Tumang. Dina hiji mangsa Dayang Sumbi keur nenun, torompongna ragrag. Manéhna embung nyokot, tuluy waé nyarita bari teu dipikirkeun sing saha nu mangnyokotkeun éta torompong, lamu lalaki rék dijieun salaki, lamun awéwé rék dijieun Tumang nyokot éta torompong tuluy dibikeun ka Dayang Sumbi. Daék teu daék Dayang Sumbi kudu nohonan jangjina. Manéhna antukna ngawin si bulan purnama, si Tumang téh bisa robah jirim jadi wujud aslina nyaéta déwa anu kasép ngalempéréng konéng. Dayang Sumbi ngimpi sapatemon jeung déwa anu kasép, tug padahalmah éta téh wujud asli si Sumbi tuluy boga anak lalaki ngaranna Sangkuriang. Éta budak téh kasép jeung kuat waktu Dayang Sumbi hayang ati mencek, manehna nitah Sangkuriang jeung si Tumang pikeun moro ka sakitu lilana moro, Sangkuriang can meunang kénéh waé. Anu akhirna Sangkuriang nempo céléng meni lintuh lumpat. Sangkuriang nitah si Tumang ngudag éta céléng, ngan si Tumang teu ngagugu kusabab manéhna nyahoeun éta céléng téh Wayungyang, ninina ambek tur bingung. Teu antaparah deui si Tumang dipeuncit tuluy diala atina. Dayang Sumbi ngadahar ati bangun nikmat. Ngan saenggeusna nyaho ati anu didahar téh ati si Tumang, Dayang Sumbi kacida ditakol tarangna ku cukil tina batok, tuluy Sangkuriang indit ti imah. Dayang Sumbi kaduhung kareureuhnakeun, manéhna nyusul néangan Sangkuriang ngan nu ditéangan geus lunta Sumbi ménta ka Sang Hyang Tunggal sangkan dipanggihkeun deui jeung anakna. Manéhna ogé tapa bari mutih, saukur ngadahar dangdaunan jeung lalab harita Sangkuriang aprak-aprakan ngalalana ngurilingan dunya, guguru ka nu sakti. Sababaraha tahun gé Sangkuriang ngajanggélék jadi pamuda anu sakti mandraguna. Sanggeus sakitu lilana lumampah ka tebéh kulon, antukna anjog deui ka patepung deui jeung Dayang Sumbi. Ngan teu nyahoeun yén étatéh indungna, kusabab kaayaan Dayang Sumbi angger ngora jeung geulis. Sihoréng éta téh balukar tina tapa jeung mutih. Dayang Sumbi ogé can nyahoeun pamuda kasép éta éeh Sangkuriang, Sumbi jeung Sangkuriang tuluy silih pikacinta. Dina hiji mangsa, nalika Sangkuriang keur léléndéan, ku Dayang Sumbi disisiran buukna. Teu dihaja Dayang Sumbi manggih céda urut ditakol dina sirah Sumbi kagét kusabab éta lalaki nu dipikacinta téh gening anakna. Ku Dayang Sumbi dicaritakeun anu saenyana. Ngan Sangkuriang keukeuh hayang ngawin Dayang Sumbi satékah polah nolak kahayang Sangkuriang. Antukna nyieun siasat, méré tanjakan pikeun nyieun parahu jeung talaga dina waktu sapeuting ku cara mendet Citarum. Ku Sangkuriang dibantuan ku dedemit migawé sarat anu dipénta ku Dayang Sumbi. Parahu dijieun tina tangkal kai anu gedé ti belah kulon. Régangna ditambrukeun di belah tengah peuting talaga jeung parahu téh ampir jadi. Dayang Sumbi tagiwur, inggis talaga jeung parahu anggeus dina peuting Sumbi ngadua tuluy mébérkeun boéh bodas di belah wétan. Boéh téh ngaluarkeun cahaya ngempur lir ibarat fajar. Tuluy nakolan lisung niru-niru nu keur nutu dedemit lalumpat kabur, Sangkuriang kacida napsuna. Parahu anu ampir anggeus ditalapung nepika hiber tuluy nangkub di belah girang ngajanggélék jadi Gunung Tangkuban dibedahkeun nepika saat kiwari cenah jadi dayeuh Bandung. Atuh cocokna dicokot tuluy dialungkeun ka kulon robah jadi Gunung Manglayang. Sedengkeun liang Citarum ngaranna nelah nepika ayeuna Sanghyang Sumbi diudag-udag ku Sangkuriang nu geus ilang akal séhatna. Dayang Sumbi ampir beunang katéwak di Gunung Putri ngan kaburu ngadu'a ka Sang Hyang Tunggal supaya disalametkeun. Antukna Dayang Sumbi rubah jirim ilang warna jadi kembang jaksi. Sedengkeun Sangkuriang leungit ngahiyang sanggeus nepi ka Ujung Lutung Kasarung jeung PurbasariDina jaman kapungkur, di tatar pasundan aya hiji karajaan anu di pimpin ku saurang raja anu wijaksana, namina nyaéta Prabu Tapak Agung. Prabu Tapak Agung ngagaduhan dua anak awéwé anu geulis, namina Purbararang sarta adi na wanci ngadeukeutan ahir hayatnya, raja Prabu Tapak Agung nunjuk Purbasari, putri bungsu na pikeun nga gentosan jabatana. "Abdi atos sepuh teuing, waktuna abdi turun tahta," ceuk raja lain sisi, Purbararang nu mangrupakeun kakana purbasari manéhna henteu satuju adina diangkat ngagantikeun Bapana. "Abdi putri anu kedah bapa pilih, kuduna abdi anu ngagantikeuna," ceuk Purbararang naroskeun ka tunangan na, nu namina sabab sirik, Purbararang teras ngagaduhan niat joré ka Purbasari. Manéhna manggihan saurang nini sihir kanggo nyilakakeun Purbasari. Nini sihir éta nyieun Purbasari kulitna barobah jadi kaayaan totol-totol kitu, Purbararang janten gaduh alesan kanggo ngusir kakana. "Jalma anu dikutuk sepertos maneh, henteu pantes jadi saurang Ratu!" ceuk manéhna nitah saurang Patih kanggo ngasingkeun Purbasari ka hiji leuweung. Satepina di leuweung, patih éta ngarasa karunyaeun ka Purbasari, sarta anjeuna mangnyieun keun hiji pondok kanggo oge masihan naséhat ka Purbasari. "Sing Tabah Tuan Putri. Cocobi ieu tangtos pasti lekasan, Anu Maha Kawasa sareng Putri," ceuk Patih. "Hatur nuhun," bales di leuweung, Purbasari ngagaduhan seueur rerencangan nu mangrupakeun sasatoan anu balalager ka manéhna. Diantara sasatoan, aya hiji monyét anu buluan hideung nu misterius namina nyaéta Lutung monyét éta anu manawi paling perhatian ka Purbasari. Lutung Kasarung terus ngahibur Purbasari, masihan kekembangan anu endah sarta wanci onggal wengi, di bulan purnama, Lutung Kasarung mapah ka tempat anu sepi teras anjeuna ngalakukeun semedi. Manehna ménta hiji hal ka Déwata. Ieu ngabuktikeun yen Lutung Kasarung teh sanes makhluk semedi éta, taneuh nu aya di dekeut Lutung kasarung barobah jadi hiji telaga alit, cai na herang kacidaan. Cai na ngandung ubar anu seungit poéna, Lutung Kasarung manggihan Purbasari sarta nitah Purbasari ibak di telaga eta. "Naon mangpaatna pikeun abdi?" pikir anjeuna nurutkeun waé. Teu lami sanggeus manéhna nyeburkeun awakna. Kulitna barobah jadi bersih sarta geulis sepertos harita deui. Purbasari rewas pisan dicampur ku hawa atoh sabot manéhna ngaca di talaga eta, kulitna bisa mulus wartos lain di karajaan, Purbararang mutuskeun bade ningali kakana nu aya di leuweung. Manéhna mangkat sareng tunangana Indrajaya sarta para di hutan, Purbararang manggihan adina si Purbasari. Purbararang teu percaya ningali adina tiasa jadi geulis deui kos embungen éléh, teras anjeuna ngajak Purbasari nitah ngadu papanjang-panjang buuk. "Saha anu paling panjang buukna, manehna anu menang!" saur Purbasari alimeun, nanging Purbararang teras-terasan ngadesek. Nah pas ditingali, buuk Purbasari malah nu lewih panjang ti Purbararang."Kajeun ayena abdi éléh, nanging ayeuna hayu urang paganteng-ganteng tunangan, tah ieu tunangan abdi", saur Purbararang sabari nyampeurkeun ka Indrajaya. Purbasari mimitina gelisah da lantaran Purbasari narik panangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung ajol-ajolan kawas mangmenangkeun Purbasari. Purbararang seuri nyalakatak ngabahak-bahak. "Jadi monyét éta tunangan manéh?" saur wanci éta oge, Lutung Kasarung teras geura semedi sakedap, sarta lumangsung barobah jadi lalaki anu ganteng kacidaan, lewih-lewih ganteng ti nu aya didinya rewasen ningali kajadian éta. Purbararang ahirna ngaku kaéléhan nana, sarta ménta maaf pikeun kalepatan salila ieu ka ménta dihampurakeun sagala kasalahan nana ka purbasari, sarta ménta supardos henteu dihukum. Purbasari anu bageur, langsung ngahampurakeun sagala kasalahan kakana kajadian eta, ahirna maranéhna sadaya balik ka karajaan. Purbasari ahirna jadi saurang ratu, di réndéngan ku saurang lalaki idamana. Lalaki éta teu lain anu salila ieu maturan Purbasari salami di leweung, nyaéta Lutung Si Kabayan Ngala NangkaDina hiji mangsa, Si Kabayan keur leleson barijeung ngalamun di harepeun rorompokanana, saliwat oge mikiran roay, tutut sareng lauk anu diala kamari."Kabayan pang ngalakeun nangka. Pilihan anu kolot buahna," parentah mitohana ka Si we Si Kabayan mangkat ka kebon. Saentos dugi ka kebon, Si Kabayan ningalian tangkal nangka anu buahan. Ajeunna milarian buah nu geus kolot. Teu pati lami Kabayan ningali hiji nangka nu kolot tur ageung. Teras we diala. Ku sabab eta nangka teh ageung, Kabayan teu kuateun nangkatna."Ieu mah hese nyandakna moal kaduga abdi mah," Kabayan nyarios dina hatena."Kumaha cara nyandakna ieu teh" saurna sabab kebon teu pati jauh sareng walungan, eta nangka dipalidkeun ku Si Kabayan."Jung balik ti payun, pan geus gede," parentah Kabayan ka nangka. Tuluy we Si Kabayan balik ka dugi ka imah, Si Kabayan ditaros ku mitohanana."Kenging teu nangka teh kabayan?" tanya mertuanya."Enya kenging atuh, nya ageung, kolot deui," saur Kabayan."Mana nangkana? Geuning anjeun datang lengoh," tumaros mitohana."Har naha teu acan dugi kitu? Padahal geus balik ti payun tadi," tembal Kabayan."Ari anjeun tong bobodoran, teu aya caritana nangka bisa balik sorangan," mitohana rada bendu."Hah, nu bodo mah nangka atuh, geus kolot teu apal jalan balik," saur ceuk kabayan tuluy we bari Dongeng Bahasa Sunda Entog EmasKacaritakeun aya saurang patani nu kacida malaratna hirup babarengan jeung entog. Manehna ngadeuheus ka Gusti Allah, "Duh, Gusti... mun paparin abdi beunghar, meureun dahar nanaon oge bisa,".Isukna, doana dikabulkeun ku Gusti Allah nu Maha Pengasih, entog nu manehna boga ngaluarkeun endog emas. Saatos eta, unggal dinten entogna ngaluarkeun hiji endog emas, manehna teh jadi poe, manehna ngarasa cape mun kudu unggal poe mawaan endog ti kandang entog. Manehna sasadiaan bedog keur ngabeleh entog ngarah emasna kabeh kaluar, jadi manehna teu kudu ari geus dibeleh entog teh, teu kaciri emas-emasna acan. Malahan entog teh paeh, manehna jadi miskin deui sabab teu bisa ngabebenah Sasakala Situ BagenditBaheula geus rébuan taun ka tukang aya hiji randa beunghar nu katelah Nyi Endit. Ieu téh saenyana mah ngaran nénehna, da ngaranna sajatina mah Nyi Bagendit. Manéhna téh kacida pisan kumedna. Geus taya nu bireuk deui kana ka kumedannana. Salian ti pakacar-pakacarna mah tara aya nu lar sup ka imahna. Éstuning lain babasan éta mah hirup nyorangan ti teu aya anu ngawawuhan, Nyi Endit téh émang jalma nunggul pinang, geus teu kadang warga, hirup téh éstu nunggelis. Ari beungharna téa mah tétéla. Béh kebonna béh sawahna, imahna gé panggedéna di salembur éta mah. Turug-turug ngahaja mencilkeun manéh, ngababakan di tengah pasawahan, nu teu aya lain, ku bawaning embung campur jeung babaturan, da sieun kasoro téa. Teu kitu mah atuh moal disebut medit. Kacaturkeun basa usum panén. Di ditu di dieu ceuyah anu dibaruat. Ka sawah Nyi Endit ogé réa nu gacong. Ari saréngsé dijieun jeung sanggeus paréna di kaleuitkeun, sakumaha tali paranti, Nyi Endit nyieun sedekah ngondang lebé jeung sawatara saniskara ku sorangan, teu aya nu ngabantuan. Barang geus tarapti, sakur nu mantuan ngakut tuluy diondang, ngariung tumpeng. Atuh nu ngariung téh nepi ka aya ratusna, tapi sadia tumpengna teu sabaraha, nepi ngan sakotéap geus bérés bari tingkaretap meujeuhna balakecrakan, solongkrong aya aki-aki bongkok nu nyampeurkeun. Ku pribumi teu ditarik teu ditakon, nya pok aki-aki waléh, yén teu kawawa ku lapar, sugan aya sih piwelas. Ari kitu téh Nyi Endit bet nyarékan, nyeklek-nyeklekkeun, pajarkeun téh tau aya ka éra, teu ngahutang gawé, ménta bagéan. Tungtungna nepi ka pundung, aki-aki dititah nyingkah. Cindekna mah geus lain indit bari jumarigjeug, bangun teu nangan. Méméh indit manéhna ngomong kieu "Sagala gé boh ka nu hadé boh ka nu goréng, moal taya wawalesna." Ngomongna kitu téh kasaksian ku sakur anu aya di dinya. Saréngséna nu dalahar tuluy amit rék baralik. Kakarak gé pating laléos, rug-reg ngarandeg, sabab aya nu tinggarero "Ca'ah! Ca'ah!" kanyahoan deui ti mana datangna éta cai, ngan leb baé pakarangan Nyi Endit téh geus ka keueum, atuh kacida ributna jalma-jalma geus teu inget ka diri batur, asal salamet dirina baé. Nyi Endit gé nya kitu, niat rék nyingkirkeun cai, tapi barang kaluar ti imahna, cai téh nepi ka lir ombak laut ting garuling ka palebah Nyi Endit. Imahna terus ka keueum méh Endit angkleung-angkleungan, bari satungtung bias mah teu weléh-weléh sasambat ménta tulung. Tapi henteu kungsi lila jep baé jempé, sihoréng geus gé geus teu ka tembong. Sumawonna sawahna nu upluk-aplak geus aya di dasar cai. Lembur sakuriling bungking geus robah ngarupa jadi situ, anu nepi ka ayeuna katelah Situ Bagendit Sakadang Kuya Mamawa ImahJaman baheula, di hiji patempatan nu ngawates ka sisi walungan, aya sakadang kuya keur meresihan sisi-sisi kebon nu kahieuman ku tangkal nu ngajajar jadi pager. Gobras-gobras dicacar maké congkrang. Si Ambu kuya keur ngaliwet di kolong saung ranggon. Liwet ditumpangan ku peda beureum, maké salam, séréh, bawang beureum. Teu lila kaambung seungit."Ambu, asak liwet téh?" Pa Kuya ngagorowok."Asak, Bapa!"Pa Kuya nyampeurkeun ka pasir, kuya téh ngebon ngahuma. Talingtrim baé hirupna. Sakapeung-kapeungeun sok aya babaturan Pa Kuya nu sarua geus ngagayot hideung di langit beulah kidul. Gebrét hujan gedé. Kitu deui, angin ngagalebug. Jigana angin puyuh duka puting beliung. Angin téh ngapungkeun saung. Awut-awutan. Kajadian kitu téh geus sababaraha kali. Puguh baé matak capé, matak rieut. Tapi, Pa Kuya sok ngoméan deui-ngoméan deui Kuya jeung Ambu Kuya, ahirna sok malikir kumaha carana sangkan imahna teu beunang ku musibah. Karasana geus kitu aya nu pupuntenan dina papanggé. Singhoréng sakadang monyét, sobatna. Sanggeus lila ngobrol, sakadang kuya nanyakeun, kumaha carana nyieun imah nu aman."Kieu wae atuh Pa Kuya, Ambu kuya, imah téh kudu nu bisa dibabawa"."Dibawa kumaha?" Kuya ngarasa héran."Sok jieun imah sasoranganeun-sasoranganeun!"Sanggeus kitu kuya nyieun imah dibantuan ku monyet. Imah geus anggeus."Terus kumaha?""Tah bagian hareup diliangan sasiraheun baé. Supaya, bisa ngelok nyumputkeun sirah. Kitu deui, bisa nololkeun sirah. Jadi, bisa nolol nempo ka luar, jeung bisa nyumputkeun sirah bari mimitina mah ugal-ugil merenahkeun imah dina tonggong téh, ahirna si kuya ngarasa aman ngagandong imah téh. Malah nepi ka ayeuna. Salian ti sakadang kuya apan si penyu di laut ogé mamawa imah. Sakadang kuya, béak nganuhunkeun ka sobatna, sakadang Talaga WarnaDina jaman baheula, aya sahiji karajaan nu ngarana Kutatanggeuhan di daerah puncak Bogor. Karajaan ieu dipingpin ku Raja Prabu Swarnalaya, nu boga istri namina Ratu ieu encan di karuniaan pun anak, sanajan sagala cara geus dilakukeun. Raja Swarnalaya akhirna mutuskeun pikeun tatapa di goa, teuing babaraha poe, ahirna raja menang hiji wangsit, ku ijin ti kawasa istrina teh hamil jeung ngalahirkeun putri anu gumelis kacida. Putri ieu di bere ngaran Nyi Ajeng Gilang Rinukmi atawa sok disebut oge putri Ayu Kencana nyaahna ka putri hiji-hjina, sagala kahayang diturutkeun kabeh, putri Ayu akihrna tumuwuh janten budak manja. Akibatna, hiji poe manehna miceun kalung hadiah ti rakyat kerajaan dina pesta ulang ti kalung akhirna awur-awuran, tutungna indungna ceurik teu eureun-eureun. Barengan jeung kitu, aya sahiji kajadian dimana aya lini gede ngagoncang jeung kaluar cai tina jero lila makin ngagedean eta cai, nepi ka ahirna ngalelepkeun karajaan Kutatanggeuhan jeung sagala isina. Eta asalna talaga nu sok disebut talaga warna teh, warna-warni airna ceuk beja mah asalna tina kalung berlian dia 7 contoh dongeng bahasa Sunda singkat, semoga membantu. Simak Video "Sosialisasi Reformasi Birokrasi Tematik dan Perubahan Roadmap 2020-2024 di Jabar" [GambasVideo 20detik] tya/tey Pada suatu hari, di sebelah utara kota Garut, ada sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Tanah di desa ini memang terkenal sangat subur dan memiliki sumber air yang sangat bagus, sehingga hasil padi yang dihasilkan para petani di desan ini sangat berkualitas. Meski sebenarnya bisa dibilang desa ini adalah desa yang kaya, para warga di sana masih hidup di dalam kemiskinan. Hal ini disebabkan oleh kehadiran seorang tengkulak pelit yang kaya raya bernama Nyai Endit ini adalah perempuan kaya yang tinggal di desa itu. Sejak suami Nyai Endit meninggal, ia mendapatkan warisan kekayaan yang berlimpah yang pada akhirnya membuatnya menjadi perempuan yang kikir dan sombong. Nyai Endit sering kali memaksa para petani di desa untuk menjual padi mereka dengan harga yang sangat murah, di bawah harga rata-rata padi pada umumnya. Namun, ketika persediaan beras warga di sana habis dan harus membelinya pada Nyai Endit, ia akan menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Tentu saja hal ini membuat para warga pusing dan yang berlimpah ini membuat Nyai Endit menjadi semakin menjadi-jadi. Bukan hanya sering menekan para warga dan petani di sana, Nyai Endit juga bahkan tidak pernah mau membantu orang-orang di sekitarnya yang sedang dilanda kesusahan. Nyai Endit hanya sibuk memikirkan harta kekayaannya sendiri. Setiap kali ada orang yang datang ke rumah Nyai Endit untuk meminta bantuan, Nyai Endit akan mengusir mereka dan enggan menolong mereka walau sebenarnya mereka hanya membutuhkan sedikit bantuan.“Ini semua, kan, hartaku! Kenapa aku harus berikan apa yang aku miliki pada mereka? Jika mereka ingin memiliki banyak harta dan tidak hidup susah sepertiku, kenapa ia tidak bekerja lebih giat saja?! Mereka hanya bisa meminta-minta!” Ucap Nyai Endit tiap ada yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan. Tentu saja para warga sebenarnya sudah bekerja dengan sangat giat dan sangat keras. Namun, karena tekanan yang diberikan Nyai Endit pada mereka, mereka tidak bisa mendapatkan hasil yang sebanding dengan kerja keras menggunakan hartanya untuk hal-hal baik atau bermanfaat, Nyai Endit lebih senang menggunakannya untuk berfoya-foya dan berpesta di desa. Di saat ia sedang asik berpesta dengan para warga desa, Nyai Endit akan menggunakan waktu berpesta ini untuk menyombongkan kekayaannya pada warga. Tentu saja pesta yang diadakan oleh Nyai Endit ini memiliki dampak yang buruk bagi para warga. Pesta yang diadakan ini selalu membuat para penduduk desa kehabisan bahan makanan. Bahkan, beberapa di antaranya mulai menderita kelaparan karena mereka tidak bisa mendapatkan bahan makanan selama pada suatu hari, ada seorang warga yang mengeluhkan kondisinya karena beras di rumahnya akan habis dan ia terpaksa harus membelinya pada Nyai Endit. Warga lainnya menjawab keluhannya dengan cerita yang lebih sedih, katanya Nyai Endit kini menjual beras dengan harga 15 kali lipat lebih mahal dari harga saat mereka menjualnya. Mereka hanya bisa duduk pasrah sambil memikirkan nasib keluarganya harus makan apa malam pada suatu hari yang terik, Nyai Endit kembali mengadakan pesta besar-besaran. Hal ini membuat para warga semakin khawatir karena kemungkinan musim kemarau akan tiba dan mereka akan kesulitan menanam padi sementara waktu. Lalu, datanglah seorang pengemis tua yang meminta makanan pada Nyai Endit. Pengemis tua ini terlihat sangat lusuh dan lemas seperti ia belum makan selama Endit pun merasa risih dengan kehadiran pengemis tua ini. Nyai Endit mencoba mencari penjaga untuk mengusirnya. Akhirnya si pengemis tua itu pun diusir secara paksa tanpa mendapatkan bantuan sedikit pun dari Nyai Endit. Setelah itu, Nyai Endit kembali menikmati keesokan harinya, pikiran Nyai Endit masih dihantui oleh pengemis tua yang datang ke pestanya. Ia masih merasa risih ada seorang pengemis yang dengan seenaknya berani mendatangi dirinya dan pestanya. Saat Nyai Endit pergi keluar rumah untuk berjalan-jalan, ia menemukan sesuatu yang cukup janggal. Di sebuah jalan di desa tersebut, ada sebuah tongkat yang tertancap ke dalam tanah. Anehnya, tidak ada satu warga pun yang berhasil mencabut tongkat ini. Bahkan, beberapa warga mencoba mencabutnya secara bersamaan. Namun, hal itu tidak juga berhasil. Nyai Endit pun ikut penasaran dan ingin mencoba mencabutnya, tapi tiba-tiba pengemis tua yang datang ke pestanya kemarin muncul lagi. Nyai Endit pun merasa risih lagi dan mulai memarahinya.“Ternyata kamu kembali lagi ke sini, pengemis tua! Jangan-jangan tongkat aneh ini ulahmu, ya!” Ujar Nyai Endit dengan nada yang tinggi. Ia pun menyuruh pengemis tua itu untuk mencoba mencabutnya. Sang pengemis tua itu pun mendekati tongkat yang tertancap ke dalam tanah itu. Dengan mudahnya, ia berhasil mencabutnya. Hal ini membuat semua warga yang melihatnya kaget bukan berhasil dicabut, tiba-tiba muncul sumber air yang sangat deras hingga akhirnya air ini memenuhi tempat itu. Para warga pun berlari dan berbondong-bondong menyelamatkan diri mereka agar mereka tidak tenggelam. Alih-alih menyelamatkan diri, Nyai Endit malah memilih untuk menyelamatkan hartanya terlebih dahulu. Meski air sudah membanjiri desa, Nyai Endit tidak ingin meninggalkan harta dan berbagai perhiasannya. Akhirnya, ia pun tenggelam bersama ini pun akhirnya tenggelam menjadi sebuah danau yang dinamakan Situ Bagendit. Situ’ memiliki arti danau, sedangkan Bagendit’ berasal dari nama Nyai Endit. Konon, jika ada yang berkunjung ke sana dan melihat lintah yang sangat besar di dasar danau, itu adalah jelmaan sosok Nyai Endit yang tidak berhasil kabur.

cerita bahasa sunda situ bagendit